Pengalaman Tes Beasiswa PMLD Kemenag 2018


sumber foto : Pendis Kemenag



Akhir tahun 2018, aku mencoba peruntungan dengan mendaftarkan diri dalam beasiswa Program Magister Lanjut Doktor (PMLD) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Beasiswa ini kece banget menurutku. Kebayang gak sih bakalan disekolahin magister sampe doktor secara gratis tis tis tis. Gak cuma biaya kuliah, konon katanya biaya kehidupan sehari-hari juga bakalan dibayarin. Sungguh jadi sultan cuy!

Beasiswa ini  adalah program baru, saudaranya beasiswa 5000 doktor yang sudah terlebih dulu diadakan Kemenang sejak beberapa tahun terakhir. Bedanya, kalau beasiswa 5000 doktor untuk kakak-kakak yang sudah jadi dosen. Sedangkan beasiswa PMLD ditujukan kepada dedek dedek fresh graduate s1 dari PTKI dalam ataupun luar negeri, dengan syarat harus dibawah usia 25 tahun. 

Nah, dengar-dengar, beasiswa ini bakalan dibuka setiap tahun. Kalau memang benar, maka dengan senang hati aku ingin berbagi pengalamanku ketika tes beasiswa kemarin. Siapa tahu di 2019 ini, ada teman-teman yang sedang deg-degan mempersiapkan diri untuk ikut tes beasiswa PMLD juga.  


Sumber foto : Pasca UIN Jakarta

Fyi, tahun 2018, beasiswa PMLD hanya dibuka di dua kampus, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Pengkajian Islam dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan IIS (Interdisipline Islamic Studies). Jadi, beasiswa ini tidak dibuka di semua jurusan. Namun jangan khawatir, karena baik jurusan Magister Pengkajian Islam UIN Jakarta ataupun IIS UIN Jogja, keduanya memiliki konsentrasi yang cukup beragam, sehingga bisa disesuaikan dengan latar belakang s1 masing-masing. Untuk info konsentrasinya apa aja, bisa dong mampir ke websitenya pasca uin Jogja dan uin Jakarta. Kalau aku kemarin daftarnya di UIN Jakarta.


Sumber foto : Pasca UIN Jakarta
Ada beberapa tahapan tes seleksi beasiswa ini, yaitu seleksi administrasi dan seleksi  ujian tertulis serta wawancara. Aku bakalan sharing sedikit apa yang aku tahu dan pengalamanku ketika melewati kedua tahapan ini.

1. SELEKSI ADMINISTRASI

Untuk mendaftar dalam program beasiswa ini, kita diminta melengkapi persyaratan dan mengupload berkas ke website masing-masing kampus. Adapun berkas yang diminta kemarin adalah scanan ijazah, transkrip nilai, proposal tesis, sertifikat TOEFL min 450 dan atau TOAFL(Aku sih cuma TOEFL aja kemarin), surat-suratan yaitu surat kesanggupan, surat permohonan beasiswa, dan apalagi ya lupa aku. Untuk surat-suratan ini kalau di UIN Jogja udah disediain formnya, jadi tinggal download aja.

Di UIN Jakarta, ada 200 orang yang lulus seleksi administrasi. Awalnya aku mikir "wah yang daftar pada lulus semua nih kayaknya", tapi ternyata ya enggak. Kemarin ketika ngobrol dengan bapak pendamping sebelum wawancara, beliau kayaknya sih bagian TU gitu, gatau juga sih.. Beliau bilang kalau hampir 100an orang gak lulus administrasi. Dan masalah yang paling banyak itu kayaknya karena sertifikat TOEFL yang diupload  tidak dari lembaga yang terakreditasi.

Jadi, meskipun beasiswa ini 'memudahkan' dengan tidak mengharuskan TOEFL ITP atau IELTS  (yang super mahal ituu hahaha) kayak syarat di beasiswa lainnya, seharusnya tidak kemudian menganggapnya sepele. Usahakan Sertifikat TOEFL yang diupload itu dari lembaga yang memang terakreditasi atau diakui. Misal nih, kalau di Jogja bisa tes di Pusat Bahasanya UIN Jogja, biaya nya sekitar 70 atau 80 ribu, tes hari ini besoknya hasil sudah bisa diketahui.

Pengumuman lulus administrasi kemarin 2 hari sesudah penutupan pendaftaran. Jadi prosesnnya cukup cepat.

Oh iya, PMLD tahun 2018 mensyaratkan calon pendaftarnya belum menikah loh ya. Info lebih lengkap tentang syarat-syaratnya, berikut kukasih tau:

1. Lulusan sarjana dari PTKI (dalam dan luar negeri)
2. Belum berusia 25 tahun
3. Tidak sedang dalam status menikah
4. Mendapat izin dari atasan bagi yang bekerja
5. Sehat jasmani dan sanggup menuntaskan perkuliahan
6. IPK min 3,5 pada skala 4
7. Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan atau berbahasa Arab yang baik
8. Menyerahkan proposal penelitian
9. Mengikuti tes


2. SELEKSI MASUK 

Kalau sudah dinyatakan lulus administrasi, maka peserta harus mengikuti seleksi masuk dalam bentuk ujian tertulis TPA, TOEFL , TOAFL, Psikotes dan Wawancara. 

Suasana tes tertulis

UJIAN TPA

Secara pribadi aku ngerasa soal TPA  ujian kemarin cukup masuk akal alias ga serumit yang kubayangkan. Sejak Mei 2018  aku udah belajar buku-buku TPA Bapennas, hampir setiap hari. Ditambah lagi sempat belajar untuk persiapan tes CPNS. Di buku-buku TPA yang aku pelajari ini, soal-soalnya rumit-rumit sekali biasanya. Jadi, ketika berhadapan dengan soal TPA ujian untuk PMLD kemarin, menurutku tidak serumit soal-soal yang ada di dalam buku-buku yang aku pelajari. Intinya, keberhasilan dapat mengerjakan soal dengan senang dan tidak kekurangan waktu di TPA kayaknya memang tidak terlepas dari rajin atau tidaknya latihan mengerjakan soal-soal. Kalau tidak terbiasa mengerjakan soal, atau bahkan sama sekali tidak tahu jenis soalnya kayak gimana, kayaknya waktu 120 menit yang disediakan bisa bikin kelabakan.  MUNGKIN hehe. 


UJIAN TOEFL DAN TOAFL


Beda halnya dengan TPA, ujian TOEFL dan TOAFL berhasil bikin aku cengar cengir kayak orang gila! Gak usah ditanya kenapa. Jelassss JELAASSS JELASSSSSS karena aku pusing bukan main ngerjainnya. Kayaknya emang udah dari sononya begok kali ya, jadi walaupun aku juga udah belajar dan latihan toefl hampir tiap hari, tetap aja aku kewalahan kalau berhadapan langsung dengan soal-soal toefl pas ujian. :'(

Aku belajar TOEFL itu dari buku Longman, Cliff, ETS dan satu lagi lupa apa. Tapi pas ngerjain soal kayak..... rrrrrrrr. Jadi ya gitulah ya gambarannya ! haha.

Nah kalau untuk TOAFL, apalah dayaku yang ngertinya cuma 'Ana Uhibbuka Fillah" :') Produk gagal madrasah wkwk. 

Oh iya, tes toefl dan toafl nya ini tanpa listening section. Jadi, ujiannya cuma structure dan reading comprehension aja.  

UJIAN PSIKOTES

Ujian psikotesnya juga biasa aja sih. Kayak psikotes pada umumnya. Kita ngerjain beberapa jenis soal gitu. Kita juga dikasih 3 kertas dan diminta menggambar orang, pohon, dan satunya lagi  disuruh ngelanjutin gambar. Gitulah pokoknya! Seru-seru aja sih. 

WAWANCARA
Sumber : pixabay


Secara pribadi aku ngerasa wawancara adalah sesi termengerikan selama 2 hari mengikuti ujian beasiswa ini. Ada dua dosen yang mewawancarai. Adapun yang ditanya dalam sesi wawancara ini adalah tentang proposal thesis, wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan. 

Proposal tesisku adalah tentang toleransi umat beragama. Sehingga pas wawancara aku ditanyain tentang toleransi itu menurutku apa sih, ayat-ayat toleransi, pendapatku andaikan ada sebuah kasus bla bla bla.

Wawasan Keislaman kemarin aku ditanyain tentang tahun berapa dan siapa yang membawa Islam masuk ke tanah air, tahun berapa dinasti Umayah berdiri, apa aja aliran dalam filsafat islam, mazhab-mazhab, terus tentang aliran-aliran dalam islam, dan masih banyak lagi. Ketika wawancara keislaman ini, aku ngerasa banget kalau kurang banyak baca. Sebenarnya yang ditanyain ini adalah pelajaran ketika di MAN dulu. Jadi, banyak-banyak baca dan jangan lupain apa yang udah dipelajarin ya gais :') 

Wawancara Kebangsaan adalah sesi termenarik menurutku ketika wawancara kemarin. Aku ditanyain gimana pendapatku tentang anggapan sekelompok orang yang menganggap Indonesia harus menjadi negara khilafah bukan negara pancasila. Aku juga ditanyain pendapatku tentang pandangan sekelompok orang yang menganggap Indonesia harus menjadi negara jihad alias negara perang. Dan beberapa pertanyaan lain yang aku agak lupa.

Terakhir, aku disuruh membaca 2 buku yang sudah disediakan, yakni buku berbahasa Arab dan berbahasa Inggris. Gak cuma dibaca, aku juga diminta untuk mengartikan. Sekitar 2 kalimat lah.
Nah karena aku lemah banget bahasa Arab aku nyengir-nyengir ngerasa berdosa banget gagal jadi alumni madrasah wkkwk. Tapi aku mencoba untuk pede ketika diminta ngebaca bahasa Inggris. Syukurnya aku ditanya oleh pewawancara "Mungkin bahasa Arab gak bisa, kita coba bahasa Inggris. Kamu bisa bahasa Inggris?"

Kesempatan!
Dengan sok pede aku jawab "Saya pernah ikut lomba pidato bahasa Inggris tingkat nasional Pak!"
Dan untungnya, at least aku gak malu-maluin pas baca dan ngartiin bahasa Inggris meskipun bahasa Arabku ampun-ampunan. Oh Tuhan :')

Oh iya, sebelum jadwalku dipanggil wawancara, aku duduk di depan ruangan. Waktu itu sedang jam istirahat ba'da sholat jumat dan sebentar lagi sesi wawancara kembali dimulai. Kebetulan bapak dosen yang akan mewawancarai kami lewat dan menyapa "Ngapain kalian di sini?" tanya beliau. Dan dengan nyengir-nyengir gemeteran aku jawab "mau wawancara dong pak". Abis itu bapaknya bilang "Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Dua itu. Kami mencari mahasiswa yang menguasai dua bahasa itu. Kami enggak mau menyusahkan kalian.  Kami ingin kalian cepat lulus. 4,5 tahun tuntas jadi doktor. Akan banyak sekali referensi berbahasa Inggris dan berbahasa Arab nantinya."   Gitu gais.


Sembari menunggu jadwal dipanggil wawancara

Itulah cerita pengalamanku ikut tes beasiswa PMLD 2018. Hingga hari ini belum ada pengumuman tentang lulus atau tidak. Aku berdoa semoga diberikan yang terbaik. Kalau memang tahun 2019 beasiswa ini dibuka kembali, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang kebetulan mampir ke blogku dan bermaksud mendaftar beasiswa PMLD juga! Semoga rezeki kita lancar. Amin.

0 Komentar