Belajar dari Keberanian Nujood Ali, Gadis Cilik Yaman yang Pemberani (Saya Nujood, Usia 10 dan Janda)


Najwa Shihab, duta baca sekaligus jurnalis berpengaruh di Indonesia yang sangat aku kagumi, sering sekali bilang "Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari jatuh cinta." Dan hari ini, setelah mengkhatamkan buku Saya Nujood, Usia 10 dan Janda, tanpa pikir panjang aku sangat bersemangat menyarankan teman-teman pengunjung blogku untuk turut membacanya juga. Suer, aku jatuh cinta pada buku ini. 


Aku membaca 200 lebih halaman tanpa jeda. Buku ini mampu membuatku penasaran dengan kisah keberanian tokoh utamanya, Nujood Ali. Gadis cilik asal Yaman, yang bagi Hillary Clinton, Ia salah satu perempuan terhebat yang Hillary kenal. 

Nujood Ali, meskipun usianya lebih muda dua tahun dariku, di usianya yang ke 10 tahun, usia ketika aku sedang asyik bermain masak-masakkan atau barbie atau bersepeda keliling RT dengan teman-teman, harus menghadapi pengalaman pahit yang tidak bisa aku bayangkan. Ia dipaksa menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua dan tidak Ia kenal sebelumnya, disiksa fisik dan batin, membuat hari-harinya laksana neraka jahannam di dunia.

Pernah Ia sampaikan kepada orangtuanya terkait apa yang Ia alami ulah suaminya, namun respon orangtua malah mengecewakannya. Sebagai istri, kau harus menurut pada suami, begitulah kiranya. Tak peduli luka fisik dan batin yang Ia alami, orangtua malah membela suaminya. 

Hingga pada suatu hari, tak tahan dengan semua yang telah terjadi, ia memberanikan diri kabur dari rumah. Tujuannya adalah "pengadilan", tempat yang ia percayai dapat membebaskannya dari jahannam dunia itu.

"Saya ingin bercerai." Katanya kepada hakim yang Ia temui di pengadilan,

Amboiii. Cobalah teman-teman sekalian baca kisah ini. Agaknya setiap yang membaca akan bergidik merinding membayangkan anak berusia 10 tahun datang ke pengadilan seorang diri, mencari hakim yang tidak Ia kenali, dan mengatakan kepada mereka ingin bercerai!

Kisah Nujood Ali, telah mengajarkan kita makna  memanusiakan manusia, mengajarkan tentang keberanian, empati, sekaligus membuka mata bahwa di dunia yang barangkali laksana surga di tanah kita berpijak, di belahan bumi yang lain, gadis-gadis cilik terpaksa menjadi istri, kehilangan keperawanan, masa kanak-kanak, dan terputus sekolah.

Source : buku Saya Nujood, Usia 10 dan Janda
***
Dipaksa ayahnya menikah dengan lelaki berusia tiga kali lipat usianya, Nujood Ali yang masih belia pun terpisah dari orangtua dan keluarga tercintanya. Ia harus memulai hidup baru bersama suami dan keluarganya di sebuah desa terpencil di pedalaman Yaman. Di sana, setiap hari ia menerima penganiayaan fisik dan emosional dari sang ibu mertua, dan dari tangan kasar sang suami tiap malam. Melanggar janji untuk untuk menangguhkan berhubungan badan dengan Nujood hingga ia cukup dewasa, sang suami merenggut keperawanan si bocah pengantin tepat pada  malam pertama. Saat itu usianya bahkan baru sepuluh tahun. Merasa tak sanggup lagi menanggung derita, Nujoood melarikan diri –bukan ke rumah orangtuanya, tapi ke gedung pengadilan di ibu kota, naik taksi dengan beberapa keping uang untuk makan sehari-hari.
 Mendengar kabar tentang korban belia ini, seorang pengacara Yaman segera menangani kasus Nujood dan berjuang melawan sistem kolot di negeri yang nyaris sebagian gadis-gadisnya menikah di bawah umur. Sejak kemenangan mereka yang tak terduga pada April 2008, tantangan Nujood yang berani terhadap adat-istiadat Yaman dan keluarganya sendiri telah menarik perhatian dunia internasional. Kisahnya bahkan mendorong perubahan di Yaman dan negara-negara Timur Tengah lainnnya, tempat hukum pernikahan di bawah umur terus diterapkan dan gadis-gadis belia yang menikah dibebaskan dengan perceraian. 

***

Penulis : Nujood Ali dan Delphine Minoui
Diterjemahkan dari I AM NUJOOD, 10 AND DIVORCED
Tahun Terbit : Agustus 2010
Penerbit : Pustaka Alvabet
Jumlah hlm : 234

*Bisa dipinjam di Ipusnas.

0 Komentar