Teori Muted Group Cheris Kramarae (Tugas Kuliah)



A.    Aliran, Paradigma dan Tradisi dari Muted Group Theory
            Tulisan ini akan membahas mengenai Muted Group Theory yang dipopulerkan oleh Cheris Kramarae. Untuk memahami teori tersebut, penting kiranya memahami terlebih dahulu dari kerangka berfikir seperti apa Muted Group Theory dilahirkan. Dalam kajian ilmu komunikasi, ada yang disebut aliran, paradigma dan tradisi. Tulisan berikut akan memaparkan mengenai aliran, paradigma dan tradisi dari Muted Group Theory.
            Muted Group Theory adalah salah satu teori komunikasi dalam aliran kritis. Aliran kritis paling tidak memiliki empat ciri. Pertama, fokus pada isu ketidaksamaan. Kedua, berperhatian pada konflik kepentingan di masyarakat dan bagaimana cara komunikasi didominasi oleh satu kelompok atas kelompok lainnya. Ketiga, Penting memahami pengalaman hidup dalam konteks real masyarakat. Keempat, memahami pengetahuan sebagai power.[1] Muted Group Theory jelas merupakan teori yang fokus pada isu ketidakadilan gender karenanya merupakan teori dalam aliran kritis.
            Selain aliran, teori ini dapat lebih dipahami dengan mengetahui paradigmanya. Paradigma atau biasa juga disebut perspektif atau mazhab adalah suatu cara pandang untuk memahami komplesitas dunia nyata.[2] Muted Group Theory termasuk teori berparadigma subjektif.  Paradigma subjektif adalah paradigma yang menganggap bahwa pengetahuan tidak mempunyai sifat objektif, melainkan bersifat interpretatif dan makna dinegosiasikan.[3] Paradigma oleh para ahli juga biasa dibagi menjadi tiga, yakni postivisme, kontruktivisme dan kritis.[4] Muted Group Theory dapat juga disebut berparadigma kritis.
            Little John, dalam bukunya yang sangat populer berjudul Communication Theory, Theories of Human Communication mengategorikan teori komunikasi menurut tradisi yang dipopulerkan oleh Robert T.Craig. Ada tujuh tradisi teori komunikasi menurut Craig, yaitu tradisi Semiotik, Fenomenologis, Sibernetika, Sosiopsikologis, Sosiokultural, Kritik dan Retorika. Muted Group Theory termasuk ke dalam tradisi Sosiokultural.
B.     Teori Muted Group - Cheris Kramarae
            Teori Language and Power atau dikenal juga sebagai Muted Group Theory, dipopulerkan oleh Cheris Kramarae. Kramarae adalah professor Speech Communication and Sociology di Universitas Illinos. Ia juga pernah menjadi professor di Center for the Study of Women di Universitas Oregon. Sebagai seorang feminis, Ia banyak melahirkan karya berkenaan dengan gender. Muted Group Theory adalah salah satu karya yang mendapatkan banyak perhatiannya selama 25 tahun.

            Muted Group Theory menganggap bahwa bahasa diciptakan untuk kaum pria, sehingga adanya ketidakadilan gender dalam hal bahasa dan juga kekuasaan. Kramarae menyatakan bahwa secara harfiah bahasa adalah a man-made construction. Wanita dan anggota dari kelompok subordinat lain, tidaklah bebas atau bisa mengatakan apa yang ingin mereka katakan, kapan dan di mana, karena kata-kata dan norma yang mereka gunakan telah diformulasikan oleh kelompok dominan, yaitu pria. Kramarae berpandangan bahwa kata-kata wanita tidak dihargai dalam masyarakat kita. Ketika wanita mencoba meniadakan ketidakadilan ini, kontrol pria terhadap komunikasi menempatkan wanita dalam ketidakberdayaan. Terlebih, man-made language membantu mendefinisikan, menjatuhkan dan bahkan meniadakan wanita. Karena itulah, wanita adalah the muted group (kelompok yang dibungkam).[5]
            The language of a particular culture does not serve all its speakers equally, for not all speakers contribute in an equal fashion to its formulation. Women (and members of other subordinate groups) are not as free as able as men aro to say what they wish, when and where they wish, because the words and the norms for their use have been formulated by the dominant group, men.[6]

            Kramarae berpandangan bahwa  fitur utama dari dunia adalah sifat linguistiknya serta kata-kata dan sintaksis dalam struktur pesan dari pemikiran seseorang serta interaksi yang mempunyai pengaruh besar pada bagaimana kita mengarungi dunia. Implikasi yang timbul dari bahasa adalah perhatian utamanya sebagaimana penelusurannya pada bagaimana cara pesan memperlakukan pria dan wanita secara berbeda. Ia berpandangan bahwa pengalaman seseorang tidak mungkin terlepas dari pengaruh bahasa. Kategori laki-laki dan wanita dianggapnya sebagai hasil dari pembentukan secara linguistik. Dengan kata lain, Kramarae percaya bahwa kita dididik untuk melihat dua jenis kelamin. Kemudian kita melakukan banyak kegiatan untuk hanya melihat dari dua jenis kelamin ini.[7]
            Kramarae tidak hanya mencatat kepentingan bahasa dalam penafsirannya, tapi juga mengarahkan pada dimensi kekuasaan.[8] Menurutnya, sistem bahasa memiliki hubungan kekuasaan yang ditambahkan di dalamnya. Mereka yang menjadi bagian dari sistem linguistik yang dominan, cenderung memiliki persepsi mereka sendiri, mengalami dan mode ekspresi yang menyatu dalam bahasa.  Salah satu yang Kramarae contohkan adalah penggunaan kata Mr dan Mrs/Miss. Mr., sebagai gelar panggilan bagi laki-laki tidak berisi informasi tentang status perkawinan. Sebaliknya Mrs/Miss sebagai gelar panggilan bagi wanita berisi informasi tentang status perkawinan. Sehingga tidak mengherankan jika Kramarae menganggap bahwa bahasa Inggris adalah ‘bahasa buatan laki-laki’.[9]   
            Muted Group Theory ini pada awalnya diperkenalkan oleh suami-istri Edwin Ardener dan Shirley Arderen, antropolog dari Universitas Oxford. Edwin mengamati bahwa para antropolog cenderung menggolongkan sebuah budaya dalam istilah maskulin. Ia juga memandang bahwa bahasa asli dari sebuah kebudayaan memiliki unsur bias yang melekat pada pria, bahwa pria menciptakan pemaknaan terhadap suatu kelompok dan bahwa suara feminin ditekan atau “dihilangkan.” Penghilangan wanita dalam penelitian Ardener ini, membawa ketidakberdayaan wanita untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dalam bahasa pria. Shirley menambahkan bahwa wanita kurang dapat merasa nyaman dan kurang ekspresif daripada pria. Wanita memperhatikan apa yang mereka katakan serta menerjemahkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan ke dalam istilah pria. Hasil akhirnya nanti adalah ‘wanita’ dihilangkan.[10] Kedua karya inilah yang disatukan oleh Kramarae dengan hasil penelitian pada wanita dan komunikasi.
            Cheris Kramarae banyak mendiskusikan aspek strategi komunikasi dalam menghadapi ‘ketulian’ laki-laki, dan ‘ketulian’ itu sendiri. Kramarae menyetujui bahwa perempuan mengalami kesulitan dalam menyuarakan pengalaman mereka dalam modal berekspresi yang didominasi sistem bahasa laki-laki (ruang pubik). Alih-alih selalu menemui jalan buntu, Kramarae menemukan bahwa perempuan dapat mencari jalan kelaur dari kendala tersebut dengan menciptakan moda ekspresi khas perempuan yang unik dan seringkali hanya beredar pada kelompok terbatas.[11]

C.    Asumsi-asumsi Teori Muted Group
            Dalam buku West dan Turner (2010) serta Griffin (2003) sebagaimana yang penulis kutip dari tulisan Parahita, disebutkan bahwa ada tiga asumsi teori ini yang dirumuskan oleh Kramarae, yaitu:
·         Wanita memahami dunia secara berbeda dari laki-laki sebab persepsi pengalaman perempuan dan laki-laki berbeda. Perbedaan tersebut berakar pada pembagian kerja (division of labor) antara laki-laki dan perempuan.
·         Laki-laki mendapatkan kuasa secara politik dan selalu mempertahankan dominasi politiknya tersebut dengan mencegah ide-ide dan makna-makna dari perempuan mendapatkan penerimaan publik.
·         Untuk dapat berpartisipasi di masyarakat, perempuan harus menerjemahkan ide-ide, makna-makna, dan pengalaman-pengalaman unik mereka ke bahasa atau moda berekspresi laki-laki.[12]

            Asumsi-asumsi utama Muted Group Theory tersebut, menurut Miller (2002) mengindikasikan adanya sejumlah asumsi atas komunikasi perempuan, yaitu:
·         Perempuan lebih sulit mengekspresikan dirinya daripada laki-laki.
·         Perempuan memahami pesan komunikasi laki-laki lebih mudah daripada laki-laki memahami pesan perempuan.
·         Perempuan cenderung mencari cara untuk mengekspresikan diri mereka di luar moda ekspresi dominan yang digunakan oleh laki-laki, baik pada konvensi-konvensi verbal maupun perilaku non-verbal.
·         Perempuan tidak begitu puas atas moda berekpresi dominan.
·         Perempuan yang menolak untuk hidup dalam tatanan sosial yang dibentuk oleh kelompok dominan akan mengubah moda ekspresi publik selama mereka secara sadar dan verbal menolak ide-ide dominan tersebut.
·         Perempuan tidak seperti laki-laki dalam menghasilan kosakata yang kemudian dikenal luas dan digunakan oleh laki-laki maupun perempuan.
·         Selera humor perempuan berbeda dari selera humor laki-laki.[13]

D.    Memahami Teori Muted Group dari Buku Griffin
            Griffin, dalam bukunya A First Look at Communication Theory, menjelaskan mengenai teori Muted Group dan membaginya kepada beberapa poin yang akan penulis jelaskan berikut.
·         Muted Groups: Black Holes in Someone Else’s Universe
Dalam bukunya, Griffin menjelaskan bahwa Ardener berasumsi ketidakpedulian terhadap wanita merupakan masalah unik gender bagi social-anthtopology. Ia kemudian sadar bahwa mutedness (kebisuan) disebabkan karena kekurangan kekuasaan (power). Hal ini lah yang menyebabkan kaum wanita diabaikan, disia-siakan dan tidak terlihat. Seperti black holes in someone else’s universe.
·         The Masculine Power to Name Experience
Kramarae berasumsi bahwa wanita melihat kenyataan di sektarnya dengan cara yang berbeda dengan pria karena keduanya mengalami pengalaman dan aktivitas yang berbeda berdasarkan pembagian kerja. Siapapun yang punya kemampuan perluasan penamaan, ia akan memliki kekuasaan yang luar biasa. Selanjutnya, bahasa membentuk persepsi kita akan realitas. Maka, pengabaian terus menerus terhadap kata-kata, dapat membuat pengalaman itu menjadi unspoken, bahkan unthought.
·         Men as the Gatekeepers of Communication
Menurut Dorothy Smith, pria menganggap penting hanya pembicaraan yang diucapkan pria. Apa yang dilakukan pria hanya relevan bagi pria, ditulis oleh, tentang dan untuk pria. Pria didengarkan dan mendengarkan satu sama lain.
·         Women’s Truth Into Men’s Talk: The Problem of Translation
Dominasi maskulin pada komunikasi publik membuat wanita harus mentransformasi model bhasanya agar diterima pada sistem pria. Wanita harus berhati-hati dalam pemilihan kata. Hal ini karena “what women want to say and can say best cannot be said easli because the language template is not of their own making.
·         Speaking Out In Private: Networking with Women
Menurut Kramarae, wanita cenderung mencari cara yang berbeda dalam mengekspresikan pengalamannya kepada public melalui diary, cerita, gosip dll. Namun pria tetap berusaha memahami maksud wanita karena mereka sadar bahwa mendengarkan wanita itu perlu untuk membangun kehormatan yang lebih besar lagi untuk dirinya.
·         Speaking Out in Public: A Feminist Dictionary
Tujuan utama dari Muted Group Theory adalah untuk mengubah man-made linguistic system yang membuat wanita tidak bisa maju dan berkembang. Karena itulah, Kramarae dan Paula Treichler membuat kompilasi kamus feminis yang menawarkan definisi untuk kata-kata wanita sekitar 2.500 kata untuk menggambarkan kreativitas bahsa dan memperkuat status kebungkaman mereka.
·         Sexual Harrassment: Coining A Term to Label Experience
Menurut Kramarae, wanita telah menjadi objek tetap pelecehan seksual. Hal ini terjadi karena wanita tidak memiliki kekuasaan (power) yang besar dalam masyataakt sehingga sering dilecehkan dan direndahkan.
           



                [1]Power Point Gun Gun Heryanto dalam Mata Kuliah Perspektif Teori Komunikasi Massa, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 
                [2]Ibid.
                [3]Ibid. 
                [4]Zikri Fachrul Nurhadi, Teori Komunikasi Kontemporer, (Depok: Kencana, 2017), h. 27. 
                [5]Ratna Permata Sari, “Pembungkaman Kaum Perempuan dalam Film Indonesia (Penerapan Teori Muted Group dalam Film “Pertaruhan”).” Jurnal Komunikasi, Vol. 9, No. 1, 2014. H. 117-125. 
                [6]Cheris Kramarae dalam Karen A. Foss, Sonja K. Foss, and Cindy L. Griffin, Feminist Rhetorical Theories, Sage, Thousand Oaks, CA, 1999.
                [7]Stephen W. Little John, Karen A. Faros, Teori Komunikasi Theoris of Human Communication, (Jakarta: Salemba Humanika, 2018),h. 170.
                [8]Ibid.
                [9]Cheris Kramarae, Women and Men Speaking: Framework for Analysis (Rowley: MA: Newbury House, 1981), h. 33-51. 
                [10]Stephen W. Little John, A. Farros, Teori Komunikasi Theories of Human Communication. 
                [11]Gilang Desti Parahita,  “Muted Group Theory: Bungkam, Bahasa Dikreasi oleh Kelompok Dominan.” Diakses di academia.edu pada tanggal 06 Januari 2020 pukul 13:54 WIB.
                [12]Ibid.     
                [13]Ibid. H. 5.

0 Komentar