Contoh Tugas Kuliah Review Artikel Jurnal



Review Jurnal adalah salah satu tugas yang cukup populer di kalangan mahasiswa. Nah, barangkali teman-teman ngerasa bingung mesti 'nulis reviewnya' bagaimana. Berikut salah satu contoh tugas kuliahku. Dari hasil pembacaanku di gugel si, bikin review jurnal tuh dah tepat begini. Eh, cuma critical reviewnya yang barangkali harus lebih berbobot. Wkwk. Enjoy it, jangan males nugas yaaa.... Semoga bermanfaat. 

TUGAS REVIEW JURNAL
Mata Kuliah: Media dan Perubahan Sosial Politik
Dosen Pengampu: Dr. Tantan Hermansah, M.Si

Judul
Indonesia’s Political Culture in the New Digital Age: A Preliminary Discussion (Budaya Politik Indonesia di Era Digital Baru: Suatu Diskusi Pendahuluan)
Jurnal
Jurnal Masyarakat, kebudayaan dan Politik
Volume & Halaman
Volume 32, Issue 4, Hal. 378-389
Tahun
2019
Penulis
Ari Ganjar Herdiansah, Ph.D dan Dr. Widya Setiabudi Sumadinata
Reviewer
Anita Sartika, S.Sos (21190510000004)
Tanggal
31 Maret 2020

Pendahuluan
Penelitian ini menyoroti perkembangan media digital yang memberikan dampak terhadap perubahan budaya politik di Indonesia. Media digital yang semakin mudah diakses telah menghasilkan dinamika atau perubahan perilaku dan artikulasi politik yang cukup intens. Namun, pengaruh  tersebut belum banyak dibahas oleh para peneliti. Sehingga, penelitian ini hadir sebagai a preliminary discussion, yang menjelaskan perubahan yang terjadi dalam budaya politik di Indonesia, sejalan dengan maraknya penggunaan media digital baru dengan mempertimbangan kondisi sosial politik dan modernisasi.

Hermansah dan Sumadinata mendiskusikan bagaimana korelasi media dan budaya politik yang terjadi di era pemerintahan Soeharto, paska Soeharto, dan di era kemajuan digital, yakni era SBY dan Jokowi. Hal ini karena adanya perbedaan ‘posisi’ media di tengah masyarakat. Dalam jurnal ini, kedua peneliti sepakat menggunakan perspektif sosiologi dalam mendiskusikan budaya politik tersebut.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode perbandingan sejarah (historical-comparative method) dengan pendekatan interpretivisme. Metode ini telah lama digunakan para peneliti untuk menganalisis dan memberikan masukan mendalam terhadap isu-isu sosial.
Hasil & Pembahasan
Hermansah dan Sumadinata membahas penelitian ini ke dalam tiga topik, yakni the characteristics of power in Indonesia’s political culture, political culture in the post-Soeharto period (direct election and mass media), dan Indonesian democracy in the new digital age.

Hasil kajian ini menunjukan bahwa budaya politik Indonesia telah lama dibentuk oleh konsepsi relasi kekuasaan tradisional. Namun, di era pasca-Soeharto, ketika hadirnya kebebasan media, sistem pemilihan umum secara langsung dan keutamaan media televisi telah mempromosikan preferensi pemilih popular yang mendegradasi tokoh-tokoh kharismatik tradisional sebelumnya.

Selain itu, perkembangan media hingga sampai pada masa keemasan kebangkitan internet dan media social memberikan implikasi demokratisasi dengan meningkatkan diskusi publik secara online. Namun, perkembangan media digital juga menggambarkan lintasan kontraproduktif terhadap nilai-nilai demokratis, ketika friksi-friksi online menyulut pengelompokkan berbasis etnik dan keagamaan.
Kesimpulan
Peneliti menyimpulkan bahwa perubahan budaya politik di Indonesia sangat berkolerasi dengan kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi. Munculnya new media dan internet di akhir pemerintahan Soeharto telah mendukung kubu oposisi yang tidak hanya menjatuhkan rezim yang berkuasa tetapi juga mendorong munculnya liberalisasi informasi yang pada gilirannya melemahkan kecenderungan politik hegemonik.

Paska pemerintahan Soeharto, kita dapat melihat bagaimana media berperan penting dalam mengalahkan primordialisme di pemilu. Tahun 2004, SBY berhasil mengalahkan Megawati dengan kemampuannya dalam menggunakan media televisi untuk membangun citranya. Tahun 2012, dengan kekuatan media social, Jokowi muncul sebagai ‘pemimpin masyarakat’ menantang Prabowo dari kalangan militer. Tahun 2017, dalam pemilu gubernur DKI Jakarta, adanya gesekan etnis dan agama dalam debat politik yang terjadi di media sosial. Akibatnya, wacana yang muncul sering dikaitkan dengan representasi etnis dan agama, dan konten yang memecah belah semakin meningkat.

Sehingga, penggunaan media digital dalam konteks politik telah mendorong demokratisasi, memberikan peluang bagi orang biasa untuk terlibat dalam proses politik. Namun, proses tersebut memicu kesadaran akan posisi identitas, terutama etnis dan agama, yang membuat wacana politik online diwarnai dengan sentimen rasis. Media sosial telah menjadi medan pertempuran yang tidak sehat. konflik antara kelompok politik yang berseberangan tidak lagi tampak rasional, melainkan terganggu oleh kepekaan identitas. Kecenderungan ini akan terbukti sulit ditangguhkan. Akhirnya, peneliti mempertanyakan apakah media sosial telah mempengaruhi demokrasi Indonesia secara paradoks. Peneliti melihat bahwa meskipun penggunaan internet dan media sosial memberikan dampak demokratisasi terhadap budaya politik Indonesia, ciri-ciri politik tradisional seperti primordialisme masih bertahan dalam masyarakat yang semakin digital.
Critical Review
Penelitian yang dilakukan oleh Herdiansah dan Sumadinata ini sangat kaya pengetahuan, sehingga memberikan informasi atau gambaran yang bermanfaat dalam kaitannya dengan budaya politik di Indonesia dan media digital. Kedua peneliti memaparkan peran media dalam pengaruhnya terhadap budaya politik di masing-masing era pemerintahan secara runut. Kedua peneliti merupakan ahli di bidang politik, sehingga kemampuannya dalam menyoroti berbagai persoalan politik tidak diragukan lagi. Hal inilah yang mendasari jurnal ini berangkat dari perspektif ilmu politik dan sosiologi.

Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan berkaitan pula dengan media digital. Sehingga, barangkali akan memunculkan perspektif baru apabila penelitian serupa dilakukan dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dari berbagai teori dalam ilmu komunikasi.

Kemajuan media digital diakui telah membuka keran demokrasi, di mana adanya arena perdebatan baru di tengah masyarakat. Masyarakat memiliki kekuatan untuk bersuara. Namun, hal ini juga menjadi PR bagi demokrasi di Indonesia, karena perdebatan politik yang terjadi di media digital tidak jarang bersinggungan dengan etnis dan agama, dua hal yang sangat krusial. Penulis berpendapat bahwa hal ini terjadi salah satunya karena pengguna media digital dapat menyembunyikan identitas aslinya, sehingga merasa tidak perlu bertanggung jawab atas pernyataan yang mereka perdebatkan di media digital. Prilaku pengguna digital dalam berdebat di media digital dapat dianalisis dengan menggunakan teori dalam ilmu komunikasi.
Kelebihan
1.      Metode analisis historical-comparative sangat memudahkan pembaca untuk memahami budaya politik Indonesia berkaitan dengan media dari masa ke masa.
2.      Abstrak yang ditulis cukup menyeluruh dan mudah dipahami oleh pembaca.
3.      Penulis memaparkan persoalan dengan jelas.
4.      Struktur penulisan runut, sehingga mudah dipahami pembaca.
Kelemahan
1.      Pembahasan terlalu luas dari judul artikel jurnal.


2 Komentar

praftiwi mengatakan…
review jurnal aku coba cin https://apiar.org.au/wp-content/uploads/2019/08/9_ICMAR_June2019_BRR761_Bus_pp.-59-65.pdf
Anonim mengatakan…
kalo review artikel gini juga ya ka?