Teori kultivasi (Cultivation Theory)

 Beberapa hal yang perlu diketahui dari teori kultivasi atau cultivation theory:


1. Dikemukakan oleh Professor George Gerbner. 

Lahir di Budapest pada tanggal 8 Agustus 1919, George Gerbner adalah professor di Annenberg School of Communication, University of Pensylvania. Ia merupakan mantan dekan, dan pernah membantu pemerintah Amerika Serikat dalam meneliti efek tayangan TV. George Gerbner meninggal pada 24 Desember 2005.  

Prof. George Gerbner


2. Sejarah Kemunculan Teori 
Pada tahun 1960an, di Amerika, TV mencapai puncak popularitasnya disebabkan banyaknya jumlah penonton. Saat itu, TV banyak menayangkan tayangan kekerasan, dan di waktu bersamaan angka kejahatan di tengah masyarakat meningkat pula. Ketika itu terdapat dugaan adanya hubungan antara tayangan kekerasan dalam tayangan TV dengan prilaku agresi dan kekerasan di tengah masyarakat. 

Karena itulah, Presiden Lyndon Johnshon membentuk dua badan yang diberi tugas meneliti pengaruh media massa khususnya TV terhadap perilaku agresi dan kekerasan di masyarakat. George Gerbner adalah ilmuwan sosial yang terlibat dalam dua proyek tsb.  Dua badan atau proyek yang dimaksud, yakni: 

3. Pengertian dan Gagasan Teori Kultivasi

Teori kultivasi atau disebut juga "analisis kultivasi" adalah teori yang memperkirakan dan menjelaskan pembentukan persepsi, pengertian dan kepercayaan mengenai dunia sebagai hasil dari mengonsumsi pesan media dalam jangka panjang (Morrisan).

Menurut Gerbner, sebagian besar yang kita ketahui, atau apa yang kita pikir kita ketahui, tidak kita alami sendiri. Kita mengetahuinya karena adanya berbagai cerita yang kita lihat dan dengar melalui media. Dengan kata lain, kita memahami realitas melalui perantaraan media massa sehingga realitas yang kita terima adalah realitas yang diperantarai (mediated reality).

Menurut Rulli Nasrullah, konsep utama teori ini adalah para penonton berat (heavy viewers) yang menghabiskan banyak waktu di depan televisi akan menunjukkan adanya penyimpangan persepsi terhadap realitas dunia nyata. Penonton secara sadar ataupun tidak sadar, akan menyamakan realitas dunia nyata dengan realitas dunia televisi, dan dalam konteks tertentu, memindahkan realitas dunia TV ke dalam dunia nyata. 

4. Index Kekerasan, Metode Penelitian Gerbner dalam Menghasilkan Teori Kultivasi

Gebner mengembangan suatu metode pengukuran yang objektif untuk mengetahui efek tayangan TV yang memungkinkan para pendukung dan penentang dapat membhas tren kekerasan di TV dengan gakta.  

Metode pengukuran tersebut adalah index kekerasan (violence index), yaitu suatu penelitian yang menganalisis isi tayangan TV pada saat jam tayang utama (prime time) antara pukul 20.00-23.00. Hal ini untuk mengetahui berapa banyak muatan kekerasan dalam berbagai tayangan tersebut. Muatan kekerasan dalam tayangan TV diukur dengan menghitung 3 aspek, yaitu
  • Rasio program TV antara yang memiliki dan tidak memiliki muatan kekerasan 
  • Tingkat kekerasan dalam program yang memiliki muatan kekerasan. 
  • Jumlah tokoh yang telibat dalam tindakan kekerasan dan pembunuhan. 
Hasil dari index kekerasan menunjukkan dua hal yang 'mengejutkan', yaitu:
  • Jumlah muatan kekerasan dalam tayangan TV jauh lebih banyak dibanding kekerasan yang terjadi 'sungguhan' di tengah masyatakat. 
  • Meskipun jumlah muatan kekerasan dalam tayangan TV jauh lebih banyak dari yang terjadi sungguhan di dunia nyata, namun jumlah muatan kekerasan dalam tayangan Tv setiap tahunnya cenderung stabil atau berada dalam level yang sama. tidak ada pola yang menunjukkan peningkatan muatan kekerasan sebagaimana diduga banyak orang sebelumnya. Dengan kata lain, 

3. Teori Kultivasi mengajukan 3 asumsi dasar

Teori kultivasi mengajukan tiga asumsi dasar untuk mengedepankan gagasan bahwa realitas yang diperantarai oleh TV menyebabkan khalayak menciptakan realitas sosial mereka sendiri yang berbeda dengan realitas yang sebenarnya. Berikut adalah 3 asumsi dasar dari teori kultivasi:

  • TV adalah media yang sangat berbeda
  • TV membentuk cara masyarakat berfikir dan berinteraksi 
  • Pengaruh TV bersifat terbatas

5. Teori Kultivasi membagi penonton menjadi dua kategori: Light Viewers dan Heavy Viewers

* Light Viewers adalah khalayak yang menonton sekitar dua jam per hari. 

* Heavy Viewers adalah khalayak yang menonton lebih empat jam per hari. 

6. Proses Kultivasi terjadi dengan dua hal: mainstreaming dan resonansi. 


Mainstreaming adalah proses mengikuti arus utama yang terjadi ketika berbagai simbol, informasi dan ide yang ditayangkan TV mendominasi atau mengalahkan simbol, informasi dan ide yang berasal dari sumber lain. 

Dalam definisi West dan Turner, mainstreaming adalah kecenderungan bagi penonton kelompok berat untuk menerima suatu realitas budaya dominan yang sama dengan realutas yang digambarkan media walaupun realitas yang digambarkan media tidak sama dengan yang sebenarnya. 

Resonansi,  terjadi ketika apa yang disajikan oleh TV sama dengan realitas aktual sehari-hari yang dihadapi penonton. Apa yang terjadi di masyarakat ditayangkan di TV dan diterima oleh penonton, keadaan ini tetap menimbulkan kultivasi. Bahkan hal ini dianggap Gerbner dapat memberikan double dose terhadap pesan yang akan memperkuat terjadinya proses kultivasi. 


Note: Beberapa penjelasan dikutip langsung dari beberapa referensi di bawah ini.

Referensi:

- Prof. Dr. Khomsahrial Romli, M.Si., Komunikasi Massa, (Jakarta: PT Grafindo, 2016).

- Morrisan, M.A., dkk., Teori Komunikasi Massa (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013).

- Morrisan, M.A., Teori Komunikasi Individu Hingga Massa (Jakarta: Pranada Media Group, 2013).

- Dr. Rulli Nasrullah., M.Si., Teori dan Riset Khalayak Media (Jakarta: Prenada Media Group, 2019).

0 Komentar