Teori Peluru dalam Ilmu Komunikasi

Btw, I created a blog namely www.teorikomunikasi.com as my birthday gift last year.  I do excited to build this blog, let see how serious I do since today.. 

Ini adalah postingan ke dua ku di blog tersebut, talking about The Bullet Theory of Mass Communication.


Berikut adalah fakta-fakta tentang Teori Peluru dalam Komunikasi Massa yang perlu untuk diketahui:


1. Teori peluru merupakan teori pertama tentang pengaruh atau efek komunikasi massa terhadap khalayaknya. 

Teori peluru adalah sebuah proses dimana seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang bersifat pasif tidak berdaya (W.Schramm, 1950an). Isi teori ini mengatakan bahwa rakyat sangat rentan terhadap pesan-pesan komunikasi massa. Sehingga apabila pesan "tepat sasaran",  maka media akan mendapatkan efek yang diinginkan. 

2. Pertama kali dikemukakan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1950-an, setelah peristiwa kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion From Mars”.

The Invasion from Mars adalah program sandiwara yang disiarkan oleh radio CBS di Amerika Serikat, menggambarkan serangan makhluk Mars yang mengancam seluruh dunia. Sandiwara itu disiarkan begitu hidup sehingga orang-orang menduga bahwa yang terjadi adalah laporan dari kejadian nyata. Sandiwara tersebut menyebabkan di Amerika Serikat orang-orang berdoa, menangis, melarikan diri secara panik untuk menghindari kematian karena makhluk Mars yang 'dianggap' betul-betul nyata. 

Peristiwa ini menarik perhatian para peneliti sosial, salah satunya adalah Wilbur Schramm. Schramm kemudian mengemukakan teori peluru atau the bullet theory of mass communication ini. 

Wilbur Schramm, sumber foto: University of Illinos

3. Dikenal juga sebagai teori model jarum hipodermis, atau  The Concept of powerfull mass media menurut Elisabeth Noelle Neumann (1973).

4. Ruang Lingkup Teori Peluru (Bullet Theory

  • Media Massa -- Media massa dalam sejarahnya pernah memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mempengaruhi seseorang. Tapi hal ini terjadi pada zaman perang, di mana penguasa menjadikan media massa sebagai alat propaganda. Pada waktu itu khalayak dianggap bersifat homogen dan tidak berdaya. Sehingga pesan-pesan yang disampaikan akan selalu diterima bulat-bulat oleh khalayak. Fenomena ini kemudian melahirkan teori jarum suntik, yakni menganggap media massa memiliki kemampan powerfull dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Saat ini, pandangan atau teori jarum suntik sudah ditinggalkan.

  • Manfaat dan Fungsi -- berdasarkan teori ini, media massa dianggap seperti peluru yang ditembakkan ke tengah masyarakat. Media massa dianggap sebagai 'jarum suntik' untuk mengalirkan obat ke dalam tubuh manusia. Teori ini juga menganggap media massa berperan untuk mendapatkan dan melihat rangsangan (respons) yang menghasilkan reaksi dari masyarakat. Dengan kata lain, media massa berperan sebagai pemberi informasi kepada khalayak, sehingga media ikut menambah wawasan di tengah-tengah masyarakat. 

5. Kelebihan dan Kekurangan Teori Peluru (Bullet Theory)

  • Kelebihan
  1. Media memiliki peran yang kuat dan dapat mempengaruhi afeksi, kognisi, dan behavior dari khalayaknya. 
  2. Pemerintah atau penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi (negara otoriter).
  3. Audiens dapat lebih mudah dipengaruhi. 
  4. Pesan lebih mudah dipahami. 
  5. Sedikit kontrol karena masyarakat masih dalam kondisi homogen. 
  • Kekurangan
  1. Masyarakat yang tidak lagi homogen dan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat dapat mengikis teori ini.
  2. Meningkatnya jumlah media massa, sehingga masyarakat dapat menentukan pilihan media massa mana yang menarik perhatiannya. 
  3. Adanya peran kelompok yang menjadi dasar audiens untuk menerima atau menolak pesan dari media tersebut.

6. Perlu diketahui, pada tahun 1970an,  Schramm meminta agar Teori Peluru komunikasi dianggap tidak pernah ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media itu ternyata tidak pasif.

Pernyataan Schramm atas pencabutan teori ini didukung oleh Paul Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Menurut Lazarsfeld, jika khalayak diterpa peluru komunikasi, kahalyak tidak jatuh terjerembab, bahkan kadang-kadang peluru tersebut tidak menembus. Raymond Bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif, melainkan bandel. khalayak secara aktif mencari apa yang mereka inginkan dari media massa. 


Referensi:

- Prof. Dr. Khomsahrial Romli, M.Si., Komunikasi Massa, (Jakarta: PT Grasindo, 2016).

 

0 Komentar