Sebuah Renungan: Antara Kerja Keras, Kerja Cerdas, Privilage, dan Takdir Tuhan

Hey yoo, Anita is back!

Ini hari ke-lima setelah -akhirnya- aku Seminar Hasil Penelitian. Di hari ke lima ini, aku masih merasa I'm not feeling good.  Perubahan cuaca terlalu ekstrem, ditambah badanku kayak melow bgt, makan salah gak makan salah. I hate it honestly.

Well, untuk menyemangati diri sendiri, aku ingin berbagi renunganku tentang hal ini:

Antara Kerja Keras, Kerja Cerdas, Privilage, dan Takdir Tuhan.

Awal renunganku dimulai  sejak kuliah S1 beberapa tahun yang lalu. Dulu, kalau bangun terlalu pagi, kayak sebelum azan Subuh, aku sering banget ngebuka pintu lantai dua kosan (Fyi, kamarku di lantai 2 kos), then berdiri di balkon kos menghirup udara segar sekaligus menikmati rasa sepi di penghujung malam menjelang pagi itu. Nikmat sekali rasanya. Nah di saat-saat seperti ini, aku sering sekali diperlihatkan tentang pelajaran hidup, bahwa dunia tidak selamanya hanya berpihak pada mereka yang bekerja keras. 

Seperti yang kubilang, waktu masih terlalu pagi, tapi yang kulihat adalah lelaki di ujung masa muda, namun belum layak disebut tua, menyusuri jalanan depan kosan dengan besi di tangan, sometimes karung di pundak, sometimes pula kulihat ada yang mendorong gerobak. Mereka mengumpulkan barang bekas yang tidak jarang tertumpuk dengan sampah di kotak sampah tiap-tiap rumah. Bahkan ketika matahari belum mulai bekerja, mereka ini sudah mengawali hari dengan lelah. 

Apakah mereka bahagia? aku tidak tahu. 

Apakah mereka memimpikan hidup dengan aktivitas seperti itu ketika masih kecil? aku tidak tahu, tapi aku cukup berkeyakinan bahwa mereka tidak memimpikan itu. 

Mereka tampak lelah. Berpenampilan seadanya, berbeda jauh jika dibandingkan dengan penampilan anak-anak muda yang nongkrong santai di mall ketika sore menjelang, haha hihi dengan segelas kopi mahal, bergosip tentang pacar, mantan atau gebetan. anak-anak muda yang barangkali subuh di waktu dhuha karena bangun kesiangan. 

Lemme compare it, mana yang lebih bekerja keras? 

Bukankah mereka yang sudah bekerja menyusuri jalanan di awal pagi itu adalah pekerja keras? iya kan? Lantas, apakah dunia berpihak kepada mereka? 

Apakah mereka mendapatkan penghasilan yang super banyak, karena bangun dan memulai aktivitas di waktu yang terlalu pagi itu? Aku curiga tidak. Aku curiga pendapatan mereka tidak berlimpah, syukur jika berkecukupan, tidak tahu apakah malah tidak menutupi kebutuhan. 

Jadi, dunia tidak selamanya berpihak hanya kepada mereka yang bekerja keras. IYA KAN?

Lantas, bolehkah kita memandang mereka sebelah mata? bolehkah kita mengkotakkan keberhasilan seseorang berdasarkan pendapatannya saja? bolehkah kita menyombongkan diri di hadapan mereka yang menjalani kehidupan super keras? 

Kita tidak akan pernah menemukan seseorang yang kepadanya kita boleh membandingkan keberhasilan diri secara apple to apple. 



***

"Makanya, kerja cerdas dong!!!" bisik sisi negatif dalam diri. 

Well, apakah dunia akan berpihak apabila kita bekerja keras dan bekerja cerdas?

Lemme see, mari kita bincangankan di lain kesempatan. 




Tulisan ini akan bersambung kalau aku sedang mood ya. hihi. 

Masih ada 3 poin yang ingin kubahas, 

tentang kerja cerdas

Privilage,

dan Takdir Tuhan

See you!

0 Komentar